Menyelami Al Wala’, Cinta karena Allah

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ikatan iman yang paling kuat bagi seorang mukmin adalah al wala’ atau rasa sayang dan cinta karena Allah.

Al wala’ merupakan pembelaan, cinta dan penghormatan atas dasar sesuatu. Jika seseorang telah mengikrarkan wala’nya kepada Tuhannya, maka yang menjadi urutan cintanya adalah Allah, Rosulullah, agama dan kaum mukminin.

Para ulama’ menyebutkan bahwa setiap muslim wajib meyakini akidah mereka, dan salah satu poin penting dari aqidah itu adalah memberi wala’ dan cinta karena Allah ta’ala.

Sebab secara umum, kaum mukminin adalah bersaudara satu sama lainnya, yaitu persaudaraan dalam agama mereka. Meskipun tempat memisahkan mereka dan berjauhan antar mereka, namun ikatan sayang dan persaudaraan menjadi nomer satu bagi mereka.

Al Wala’, Ikatan Terkuat Iman

Akidah al wala’ dan al bara’ ini memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Sehingga Nabi menyebut keduanya sebagai ikatan terkuat bagi agama seseorang. Sebab salah satu konskuensi dan wujud dari kalimat tahlil laa ilaaha illallah ada pada cinta dan benci karena Allah.

Bahkan karena urgensitas dari al wala’ ini sampai-sampai Ibnu Umar, sahabat Nabi, menyebut seseorang tidak akan meraih cinta Allah kecuali melakukan sesuatu dengan diniatkan untuk Allah ta’ala. Dan dengan al wala’ inilah manisnya iman bisa diraih seseorang mukmin.

Perasaan saling sayang dan cinta karena Allah ini mengikat dan terkhusus buat mereka umat Islam. Adapun ketika seorang muslim bermuamalah dengan mereka non muslim, maka aturannya adalah tetap menghargai mereka dalam ukhuwah insaniyah.

Salah satu teladan dalam berbuat baik kepada non muslim adalah sikap Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi pernah memberi hadiah kepada Umar pakaian yang mahal. Kemudian Umar memberikan pakaian itu kepada saudaranya non muslim yang ada di Makkah, dan hal ini tidak diingkari Nabi Muhammad.

Bahkan dalam urusan keadilan, maka hak antara umat islam dan orang di luar mereka adalah sama. Yaitu tetap diperlakukan adil dan tidak mendzalimi mereka.

Ibnu Jarir at Thabari saat menjelaskan firman Allah dalam surat Al Mumtahanah ayat 8-9 menyebutkan, bahwa Allah tidak melarang umat Islam untuk berlaku baik, adil dan berlemah lembut kepada non muslim selama mereka juga berbuat baik kepada umat Islam. Bahkan agama justru melarang umatnya dari mendzalimi hak-hak yang menjadi milik non muslim.

Uhibbuka Fillah, Cinta Karena Allah

Kedamaian ini adalah salah satu bentuk indahnya islam antar sesama umat Muslim dan tidak mendzalimi kepada orang yang diluar mereka.

Bentuk keeratan ukhuwah islamiyah ini bahkan disebutkan Nabi dengan cara mengungkapkan cinta kepada sesama muslim dengan ungkapan ana uhibbuka fillah (aku mencintaimu karena Allah).

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi bersabda, sesiapa saja yang mencintai saudaranya, maka hendaklah mengungkapkannya kepadanya. Dan hal ini berlaku bagi seorang muslim yang mencintai seseorang yang boleh dicintai, karena sebab perilakunya atau amal kebaikannya.

Oleh karena itu, Hasan al Basri pernah mengatakan, sesungguhnya manusia yang paling dicintai Allah adalah mereka yang cinta Allah melalui hamba-hamba Allah. Mereka saling menasehati antar mereka jika ada perbuatan salah dan inilah puncak iman.

Sebab konskuensi dari cinta kepada Allah adalah mencari berbagai hal yang dicintaiNya dan mencintai siapa yang mencintai Allah. Sehingga ucapan ana uhibbuka fillah benar-benar memiliki makna dalam ucapan dan perilaku.

Ungkapan cinta dan kedamaian inilah yang diajarkan oleh islam kepada pemeluknya. Sebab Islam ini berarti damai dan kedamaian. Mereka yang masuk di dalamnya merasa aman oleh ajarannya dan rasa cinta itu semakin mendalam dengan menetapi seluruh aturan Islam.

Tinggalkan Balasan